705

Bridge Professional, Bagaimana dengan Pemain Indonesia?

 

Menjadi pemain bridge professional sudah bisa dijadikan sebagai aktifitas yang menghasilkan uang (pekerjaan tetap), tetapi baru di dunia barat sana, khususnya Amerika dan Eropa. Mereka hidup mewah dengan penghasilan yang menggiurkan bukan hanya untuk ukuran Indonesia tetapi juga untuk kehidupan di Eropa dan Amerika. Menurut Bob Hamman para pemain bridge top dunia berpenghasilan antara US$200,000 – US$500,000 per tahunnya. Sebagai gambaran, seorang software developer di negeri Paman Sam hanya digaji sekitar US$96,000, Civil engineer sekitar US$90,00 dan Computer programmer hanya US$80,000 per tahun. Jadi hidup sebagai pemain bridge professional adalah hidup yang makmur.
 
Uang saku pemain bridge professional ini bukan didapatkan dari hadiah turnamen melainkan dari sponsor yang membiayai mereka. Uang saku para pemain ini tergantung dari banyak hal, diantaranya master point pemainnya, serta gengsi turnamen yang diikuti. Untuk kejuaraan kecil, uang saku juga kecil tetapi jika turnamen akbar seperti Kejuaraan Nasional Amerika misalnya para pemain akan mendapatkan uang saku yang tidak sedikit. Bonus akan diberikan, jika berprestasi. Singkatnya pemain bridge profesional tidak serta merta diberi uang saku yang tinggi tanpa memperlihatkan prestasi mereka.
 
Beberapa pemain hebat dari beberapa belahan dunia telah hijrah dan dikontrak oleh klub bridge di Amerika dan Eropa. Sebut saja misalnya Tarek Sadek-El Ahmady dari Mesir, Agustin Madala dari Argentina, Boye Brogeland dari Norway, Ishmael Del’monte dari Australia, Fu Zhong dari China dan bintang muda yang menanjak dari negara Yahudi Israel, Lothan Fisher – Ron Schwartz. Demikian juga para pemain dari negara Monaco, yang semuanya adalah pemain manca negara tentunya dengan bayaran selangit seperti Geir Helgemo, Helness, Fantoni dan Nunes. 
 
Lha, kapan kita mendengar para pemain Indonesia bisa berkiprah di sana? Masak sih tidak tergiur sama sekali? Kita mempunyai juara dunia senior Henky Lasut-Eddy Manoppo, ada pasangan yang langganan tim open nasional seperti Robert Tobing-Taufik Asbi serta Julius A George-Franky Karwur dengan prestasi internasional yang bisa dibanggakan. Apa kendalanya?
 
Coba simak video berikut ini. Pasangan muda yang juara nasional Canada ini langsung dikontrak oleh Mahaffey. Tak tanggung-tanggung jumlahnya mencapai US$24,000 untuk 3 turnamen besar. Wow, suatu nilai yang sangat besar, apalagi 3 turnamen besar tersebut durasinya kira-kira tiga minggu saja….. 
 
Menurut kami cara paling jitu agar dilirik adalah dengan membuat prestasi besar. Hayo para pemain Indonesia, berprestasilah…. harumkan nama Indonesia, mau tidak mau mereka akan melirik kalian semua….      

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *